An nasr
Barang sepuluh atau lima belas menit setelah siaran radio terakhir, saat yang kutunggu-tunggu akhirnya tiba. Seorang pemuda tegap, bermata tajam turun dari bak truk, menghampiri warung tempatku menghabiskan gaji yang tidak seberapa, dengan rokok dan bir.
Aku melihat bahunya. Kopral satu. Ia berdiri
di pintu masuk memandangi penjuru warung sembari menghitung ada berapa kepala malam
itu.
“dua belas” teriaknya pada siapa pun yang
ada di bak truk.
Aku bergegas menghampirinya. “pistol saja
cukup”
“kau yakin pak tua? Kau tahu apa yang akan
kita hadapi besok? kita akan menyerbu...”
Aku mengangguk pelan saja. Ia tampak paham.
Tidak lama seorang prajurit datang membawa
dua pucuk senapan, dan memberikanku satu pucuk revolver. Aku tersenyum pada
sang kopral dan prajurit. Seumur-umur baru kali ini aku berterima kasih, atau
bahkan tersenyum pada tentara.
Mereka lalu pergi setelah memberitahu orang-orang
di warung apa yang harus dilakukan esok hari. Pergi ke koramil di belakang Gedung sekolah dan mendaftar, katanya.
Aku segera pulang tidak sabar. Melewati orang-orang
yang berpesta di tengah jalan. Klakson dibunyikan, petasan dinyalakan, langit
malam jadi sasaran senapan. “hari kemenangan rakyat telah datang” teriak seorang
dengan seragam. Lampu-lampu menyinari aspal jalanan meski cahayanya kian jauh
kian hilang. Menuju dunia lain di mana langit tampak selalu kelam, akhirnya aku
pulang.
Aspal, lampu, manusia, ingatan, di tempat
ini semua habis dimakan gelap dan belatung.
Aku duduk bersandar di dipan di dalam
bedeng kecil di belakang kuburan. kukeluarkan rokok di saku, menghisapnya
dalam-dalam hingga ia tamat di hisapan ke lima. Aku rogoh saku lebih dalam. Beceng
sudah kugenggam.
Hari-hari ini cukup melelahkan, pikirku.

Komentar
Posting Komentar